Langsung ke konten utama

Cukup sekali saja singgah nya

Desember 2018
dimana bulan ini penuh dengan perenungan diri, mengingat kembali apa yang sudah aku lakukan dan membandingkan diriku yang dulu dengan yang sekarang. Menjadi lebih buruk, baik atau tidak ada perubahan sama sekali.

Dan dibulan ini juga, ada kejutan yg ternyata siap untuk aku terima. Tuhan mempertemukan ku kembali dengan dia, seseorang yang empat tahun lalu pernah singgah di hati ku. Iya, hanya singgah.
Waktu itu, ada acara Job Fair di kota kita. Aku yang baru lulus pun datang ke acara itu. Berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai sama keinginan. Kami, aku dan teman ku, berkeliling sembari mencari tau bagaimana track record perusahaan dan saling bertukar informasi mengenai perusahaan itu. Tak lama kemudian, ada seseorang lewat disamping ku. Ku tengok. Dan ternyata DIA. Saat itu juga langsung ku berucap : Loh, mas. Disini juga (sambil nunjuk tangan ke dia). Dan saat itu juga, aku mengajak dia salaman.
Dari awal itu, kita ngobrol tapi sebentar. Karna pada saat itu dia bersama seorang wanita, yang kata dia sih teman. Dan jg aku kehabisan ide mau ngobrol tentang apa lagi.

Setelah kejadian kita pisah dengan cara yang kurang enak, waktu itu aku bener bener sedih. Susah untuk memaafkan. Melihat dia pun aku sudah muak. Yg ada di fikiran ku ketika mengingat dia, selalu mengenang akhir dari cerita kami yang diwarnai pertengkaran, ketidaktegasan dia untuk memilih, pengkhianatan. Sungguh, sakit sekali rasanya. Hingga aku susah untuk melupakannya. Dan aku berdoa "Tuhan, tolong aku untuk bisa melupakan dia. Sesak sekali rasanya ketika ku mengingat dia". Lalu, aku pun menangis. Menangis karena hingga saat itu aku belum bisa melupakannya.

Sebelumnya pun, kita pernah ketemu, tapi aku sering buang muka, bener bener gak peduli. Karena setiap aku lihat dia, yaa teringat lagi yang dulu. Dan sedih lagi pada akhirnya. Benar benar terbuang banyak emosi ku. Dan memang waktu itu, aku belum bisa memaafkan dia. Mangkanya aku gak siap kalau kita ketemu lagi. Jangankan menyapa, senyum ke dia pun aku gak siap.

Selama aku pindah ke Surabaya, aku mulai menyibukkan diri dengan kegiatan kampus. Setidaknya pikiran ku diisi untuk hal yang ada gunanya. Sampe aku bisa melupakan dia dan melupakan rasa sakitnya juga.



Komentar